By Munif Chatib

Masih banyak masyarakat yang salah persepsi tentang sekolah inklusi yang disamakan dengan  Sekolah Luar Biasa (SLB). Padahal pemahaman tersebut salah total. Saya mencoba memberi ilustrasi yang sederhana tentang manusia dan kronologis pendidikan manusia sampai menuju sekolah inklusi.

Pertama, zaman dulu, manusia dibedakan berdasarkan gender. Ketika bayi yang lahir dari rahim seorang ibu adalah laki-laki, maka bayi itu mendapatkan hak hidup, hak belajar, dan hak-hak dasar yang lain. Sebaliknya jika bayi tersebut perempuan, maka langsung dibunuh dengan cara dikubur hidup-hidup. Hak hidupnya dicabut, apalagi hak belajarnya. Alasannya adalah perempuan makhluk yang lemah dan menjadi beban berkepanjangan.

Kedua, zaman mulai berkembang, bayi perempuan tidak dibunuh, namun ketika ada bayi lahir dengan kondisi cacat, pada umumnya cacat fisik (bagian tubuh tidak lengkap), maka bayi-bayi tersebut dibunuh, baik bayi laki maupun perempuan. Alasan utamanya adalah malu, menjadi beban hidup dan tidak punya potensi menjaadi prajurit perang atau orang yang akan melindungi keluarganya.

Ketiga, zaman terus berkembang. Bayi yang caat secara fisik atau berkeutuhan khusus lainnya, tidak dibunuh oleh orangtuanya. Sampai mereka dewasa, diberikan hak hidup. Namun tidak mendapatkan hak dasar yang lain, yaitu hak belajar dan hak bersosialisasi. Anak-anak berkebutuhan khusus pada zaman itu dipasung oleh orangtuanya. Mereka dikat kaki dan atau tangannya atau dimasukkan dalam kandang mirip binatang dan diberi makanan dan minuman setiap harinya. Alasannya masih sama, yaitu malu dan menganggu orang lain.

Keempat, zaman makin berkembang. Anak-anak berkebutuhan khusus mulai diberikan hak belajarnya. Mereka dikumpulkan dalam satu sekolah khusus, yang bernama Sekolah Luar Biasa (SLB). Sedangkan anak-anak yang regular dikumpulkan pada sekolah normal. Istilah lain adalah segregasi pendidikan. Semua anak dalam berbagai kondisi berhak belajar dan sekolah, namun harus dipisahkan antara yang berkebutuhan khusus dengan yang regular. Alasan pemisahan tersebut beraneka ragam, antara lain anak berkebutuhan khusus dianggap bisa menular ke anak regular atau mengganggu. Anak berkebutuhan khusus tidak akan pernah mampu sukses belajar dan berkarya. Segregasi pendidikan masih terjadi sampai hari ini, terutama di Indonesia. Bahkan melebar sampai dibagi tiga, yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB), sekolah umum, dan sekolah anak-anak pandai secara kognitif. Sistem pendidikan dan  masyarakat masih menganggap sekolah terbaik adalah yang berisi anak-anak pandai, lalu rangking dua adalah sekolah umum, dan rangking paling rendah adalah Sekolah Luar Biasa (SLB).

Kelima, zaman sudah maju. Hak belajar dan hak dasar yang lain bagi seorang anak, bagaimanapun kondisinya harus diakui. Lahirlah sekolah inklusi, yaitu sekolah yang memberikan kesempatan anak berkebutuhan khusud dan regular belajar Bersama-sama dalam satu kelas. Perbedaannya adalah pada isi kurikulum dan pelayanan kebutuhan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak berkebutuhan khusus. Sekolah inklusi saat ini sudah mendunia. Finlandia, Jepang dan negara-negara yang maju kualitas pendidikannya menerapkan konsep sekolah inklusi. Dampaknya untuk siswa regular sangat dahsyat. Mereka belajar tentang perbedaan dan kepedulian. Sejak kecil sampai menjadi pemimpin anak-anak tersebut akan terasah sikap kepedulian tangkat tinggi dan memperjuangkan keadilan untuk bangsa dan negaranya. Sekolah inklusi adalah sekolah dengan maqom tertinggi. Sekolah inklusi jelas-jelas bukan Sekolah Luar Biasa (SLB).

shares