Tuntutlah ilmu dari “lahir” sampai masuk “liang lahat”
Sebagai seorang muslim tentulah wajib hukumnya meyakini dengan segenap hati setiap perkataan maupun perbuatan Rasulullah Saw
Begitu indahnya hadits di atas, bagaimana tidak sebagai makhluk yg berakal, manusia tentunya paham betul untuk bisa menjalani kehidupan ini diperlukan ilmu yang mumpuni dan bermacam2 tentunya selaras dengan banyaknya aktivitas dan permasalahan yang dihadapi.
Berdasarkan hadits tersebut Menuntut ilmu tidak dikhususkan untuk ilmu agama saja tentunya melainkan segala ilmu pengetahuan yang memiliki nilai manfaat untuk bisa menunjang kehidupan yang sejahtera dan bermartabat.
Bila berkaca pada hasil penelitian tentunya sangat selaras dengan kewajiban menuntut ilmu, dimana masa yang disebut para ahli sebagai golden ages adalah ketika manusia berusia 0-5th dan jauh sebelum penelitian ini ada, Rasulullah Saw telah memerintahkan pada umat manusia untuk mencari ilmu dari sejak lahirnya manusia sampai hembusan nafas terakhir.
Lalu pertanyaannya bagaimana bisa bayi yg baru terlahir sudah memegang amanah untuk mencari ilmu?

Bila kita ukur pada tercatat balighnya manusia tentunya bayi belumlah punya kewajiban untuk melaksanakan segala perintah agama salah satunya menuntut ilmu, namun dalam hal ini kewajiban mengajarkan ilmu ada pada pundak orang tua bayi tentunya. Nah di sini lah peran orang tua memenuhi perintah Rasulullah Saw dalam menuntutkan ilmu pada anaknya sampai anak tersebut terkena hukum syar’i (ketika mereka sudah dikatakan baligh) termasuk salah satunya memilihkan sekolah terbaik untuk anaknya.
Dalam menentukan sebuah pilihan sekolah tentunya indikator yang dilihat bukan hanya sekedar biaya yang dikorbankan, namun orang tua harus pandai memilah dan memilih kualitas yang ditawarkan sekolah untuk menunjang kehidupan anaknya kelak.
Tentunya kualitas bukan hanya sekadar membuat anak pandai dalam.mengerjakan tugas di atas kertas semata, namun lebih dari itu bagaimana anak mampu mencari solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi mereka didunia nyata dalam hal ini pendidikan problem solving. Selain itu orang tua harus mampu melihat kualitas sekolah dari bagaimana mereka menawarkan pendidikan akhlak pada anak sehingga akhlak mereka menjadi lebih baik sesuai dengan yang diharapkan serta bagaimana sekolah mampu memenuhi dan mengbangkan minat dan potensi anak untuk menjadi pribadi yang memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda-beda sesuai dengan bakat mereka dan masih banyak lagi ukuran kualitas sebuah sekolah. Tentunya saat ini masih sangat minim sekali sekolah2 yang mampu memenuhi syarat sebagai sekolah yang berkualitas, kebanyakan dari sekolah yang ada hanya menawarkan sebuah prestasi hanya dibidang akademik lebih khususnya bagaimana anak menjadi pintar hanya dalam menjawab soal-soal diatas kertas dan langsung di labelling dengan julukan “pintar”.