Lebih dari Sekadar Berbagi: “Sharing Food” School of Human sebagai Laboratorium Empati dan Sosialisasi Asosiatif

Share This Post

— SMA SCHOOL OF HUMAN —

Artikel oleh Wiji Tri Wahyuni, S.Pd.

===oOo===

Di era digital, di mana interaksi semakin termediasi layar, bagaimana kita mengajarkan anak-anak tentang konsep kemanusiaan yang paling dasar: simpati dan empati? Bagaimana kita mentransformasi konsep sosiologis yang teoretis seperti “interaksi sosial asosiatif” menjadi sebuah pengalaman yang dapat diraba, dirasa, dan dicerna secara harfiah?

Di School of Human (SOH), sebuah sekolah inklusi yang memegang teguh filosofi “memanusiakan manusia“, kami percaya jawabannya tidak terletak pada buku teks. Jawabannya ada pada sebuah piring berisi makanan. Setiap satu bulan sekali, pada hari Jumat yang telah ditentukan, suasana sekolah berubah. Ini adalah hari untuk program “Sharing Food”. Ini bukan sekadar “potluck” atau bawa bekal biasa. Ini adalah laboratorium sosial yang dirancang dengan sengaja, sebuah kurikulum terapan untuk mempraktikkan inti dari kemanusiaan.

Makanan sebagai Sarana Asosiatif

Dalam Sosiologi, kita mengenal dua bentuk interaksi sosial: asosiatif dan disosiatif. Interaksi disosiatif seperti kompetisi dan konflik sayangnya, sering kali menjadi norma di banyak lingkungan pendidikan. Siswa didorong untuk bersaing memperebutkan peringkat atau pengakuan. Program “Sharing Food” di SOH secara sadar dirancang sebagai antitesis dari hal tersebut. Ini adalah praktik murni dari sosialisasi asosiatif: sebuah interaksi yang mengarah pada persatuan, kerja sama (cooperation), dan akomodasi.

Ketika bel jam pertama berbunyi di hari Jumat itu, tidak ada kompetisi. Yang ada adalah anak-anak yang berkumpul dilapangan, dimulai dengan olahraga ringan dan permainan tradisional, di mana setiap anak menjadi kontributor. Mereka tidak bersaing untuk menjadi yang “terbaik” atau “terkuat”. Sebaliknya, mereka berpartisipasi dalam sebuah ritual kerja sama. Setelah berolahraga, acara sharing food pun dimulai. Siswa-siswi membawa makanan sesuai dengan tema tiap bulannya. Makanan yang mereka bawa menjadi “milik bersama”, menciptakan sebuah mikrokosmos masyarakat komunal di mana tujuannya adalah kebahagiaan dan kepuasan kolektif, bukan kemenangan individu.

Dari Makanan Sehat hingga Minuman Segar

Untuk menjaga program tetap segar dan terarah, “Sharing Food” hadir dengan tema yang berganti setiap bulannya. Terkadang temanya adalah “Makanan Sehat”, di mana anak-anak membawa buah-buahan, sayuran, atau olahan rebus. Di bulan lain, temanya adalah “Makanan Berat”, di mana meja dipenuhi oleh beragam karbohidrat dan lauk-pauk. Ada kalanya tema berfokus pada “Minuman”, menciptakan “kafe” dadakan yang penuh dengan jus, susu, atau teh.

Struktur tema ini penting. Ia bukan sekadar variasi menu, tetapi pemandu pedagogis. Saat temanya “Makanan Sehat”, diskusi secara alami mengarah pada empati terhadap tubuh kita sendiri dan tubuh teman-teman. “Ini bagus untuk energi kita,” kata seorang fasilitator. Saat temanya “Makanan Berat”, ini menjadi simbol gotong royong untuk saling memberi “bahan bakar” dan nutrisi. Tema ini mengajarkan bahwa setiap orang berkontribusi pada kekuatan kolektif.

Dari Simpati Menuju Empati

Di sinilah inti dari program ini bersinar. “Sharing Food” adalah sarana aplikatif bukan teoretis untuk menumbuhkan simpati dan empati. Simpati (merasakan untuk orang lain) adalah level dasarnya. Ini adalah tindakan membawa makanan untuk dibagikan. “Aku membawa kue ini untuk teman-teman,” adalah wujud simpati. Anak belajar bahwa memberi itu menyenangkan dan membuat orang lain tersenyum.

Namun, School of Human, sebagai sekolah inklusi, mendorong ini satu langkah lebih jauh menuju empati (merasakan bersama orang lain atau mengambil perspektif mereka). Empati adalah ketika seorang anak mulai berpikir dari sudut pandang temannya saat menyiapkan bekal di rumah.

  • Aku tahu temanku, A, tidak suka pedas. Jadi, aku akan memisahkan sausnya.”
  • Temanku, B, alergi kacang. Aku harus pastikan ibuku tidak memakai kacang di masakan ini, atau aku akan memberitahunya.”
  • Fasilitator C sedang mencoba hidup sehat. Aku akan bawakan dia salad buah.”

Dalam konteks inklusi di SOH, di mana siswa memiliki spektrum kebutuhan sensorik dan preferensi yang sangat beragam, praktik empati ini menjadi semakin krusial. Seorang siswa mungkin belajar bahwa temannya yang neurodivergen hanya mau makan makanan dengan tekstur renyah. Pada hari “Sharing Food“, dia mungkin dengan sengaja membawa kerupuk atau biskuit ekstra khusus untuk temannya itu. Ini adalah empati aplikatif. Ini adalah pengambilan perspektif. Anak tidak lagi hanya berpikir “Aku bawa apa?“, tetapi “Apa yang akan membuat temanku merasa nyaman dan diterima?

Laboratorium Inklusi yang Sebenarnya

Program “Sharing Food” juga menjadi ajang latihan keterampilan sosial yang vital. Di meja makan bersama itu, anak-anak belajar menawarkan, “Kamu mau coba?” Mereka juga belajar menerima, “Ya, terima kasih,” atau bahkan menolak dengan sopan, “Tidak, terima kasih, aku sudah kenyang.”

Bagi banyak siswa, terutama dalam spektrum inklusi, interaksi ini bisa jadi menantang. Tetapi karena dilakukan dalam suasana yang aman, suportif, dan menyenangkan (dikelilingi makanan enak!), tantangan itu berubah menjadi kesempatan belajar. Fasilitator ada di sana untuk memodelkan, memediasi, dan merayakan setiap interaksi positif.

Pada akhirnya, “Sharing Food” di School of Human adalah pernyataan filosofis yang kuat. Ia menyatakan bahwa pendidikan terbaik bukanlah yang mengisi kepala, tetapi yang membentuk hati. Setiap bulan, di hari Jumat itu, siswa kami tidak hanya mengisi perut mereka. Mereka mengisi “otot” empati mereka. Mereka membuktikan bahwa pelajaran sosiologi yang paling penting tentang kerja sama, kepedulian, dan komunitas tidak ditemukan dalam buku. Pelajaran itu ditemukan di atas piring, di antara teman-teman, dalam tindakan sederhana namun sangat mendalam: berbagi makanan.

Wiji Tri Wahyuni, S.Pd., biasa di SOH dipanggil dengan panggilan Kak Wiji, adalah Guru mata pelajaran Sosiologi (SOS) di SMA School of Human dan juga mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP School of Human. Ia sudah bergabung di School of Human sejak tahun 2018. Di tahun pelajaran 2025-2026 ini, Ia diberi amanah tambahan sebagai Wali Kelas 11B SMA School of Human.

Yuk Daftar Sekarang!!

Sekolah Pemantik Bakat dan Minat Siswa

More To Explore

SMP-SMA School of Human

Sekolah Pemantik Bakat dan Minat Siswa