— SMA SCHOOL OF HUMAN —
Artikel oleh Wiji Tri Wahyuni, S.Pd.
===oOo===
Di School of Human, Sosiologi adalah pelajaran partisipasi. Ia hadir dalam harmoni lagu daerah dan aroma bumbu nusantara, membuktikan bahwa inklusi adalah tentang kontribusi rasa, bukan sekadar teori.
Sosiologi, ilmu tentang masyarakat, sering kali ironisnya menjadi pelajaran yang paling individualistis dan kering di sekolah. Ia menjadi momok hafalan: nama-nama teoritisi Eropa yang asing, konsep-konsep abstrak seperti Gemeinschaft dan Gesellschaft, dan diagram-diagram kaku tentang struktur sosial. Pelajaran tentang interaksi manusia justru sering kali diajarkan tanpa interaksi yang bermakna.
Di School of Human (SOH), sebuah sekolah yang fondasinya dibangun di atas pilar inklusi di Kota Bekasi, pendekatan ini tidak akan pernah berhasil. Misi kami adalah “memanusiakan manusia“, dan ini menuntut kami menjawab pertanyaan fundamental: “Bagaimana Anda mengajarkan konsep abstrak tentang “masyarakat” kepada siswa dengan spektrum kebutuhan, kemampuan, dan cara belajar yang begitu beragam?“, “Bagaimana menjelaskan konsep “pluralisme” kepada siswa yang berkomunikasi secara non-verbal?“, atau “Bagaimana mengajarkan “gotong royong” kepada siswa yang mungkin secara alami lebih nyaman bekerja sendiri?”
Jawabannya tidak kami temukan di buku teks. Kami menemukannya di ruang-ruang multisensori: di dalam harmoni yang terdengar dari ruang musik, dan di dalam aroma yang tercium dari dapur. Kami sadar, Sosiologi paling baik diajarkan bukan dengan menghafalnya, tetapi dengan merasakannya, mendengarnya, dan memasaknya.
Mendengar Sosiologi: Lagu Daerah sebagai Teks Identitas Kolektif
Sebelum masyarakat mengenal tulisan, mereka mengabadikan nilai-nilai, sejarah, dan norma sosial mereka melalui lisan, terutama lagu. Di School of Human, kami menggunakan lagu daerah sebagai “teks sosiologi” pertama kami.
Saat siswa kami belajar lagu Manuk Dadali dari Jawa Barat, kami tidak berhenti pada nadanya. Kami membedah liriknya. Kami menemukan pelajaran sosiologi tentang simbolisme (burung Garuda sebagai lambang negara), nilai-nilai kolektif (nasionalisme, keberanian), dan struktur sosial (semboyan “bersatu“). Ini adalah pelajaran langsung tentang bagaimana sebuah kelompok membangun identitas kolektif dan kebanggaan.
Di kelas lain, kami mungkin menggali lagu Lir-Ilir dari Jawa Tengah. Ini bukan sekadar lagu dolanan. Ini adalah teks sosiologi yang canggih tentang perubahan sosial, agen sosialisasi (peran ulama/pemimpin), dan sinkretisme budaya (bagaimana nilai-nilai baru berakulturasi dengan tradisi yang ada).
Keajaiban inklusinya terjadi dalam proses. Bagi siswa dengan spektrum autisme, ritme dan melodi yang terstruktur dari sebuah lagu bisa menjadi “jangkar” (anchor) yang menenangkan, mengizinkan mereka untuk berpartisipasi. Bagi siswa yang kinestetik, mereka mengekspresikan pemahaman mereka melalui tarian. Bagi siswa yang unggul secara verbal, mereka memimpin analisis lirik. Tidak ada satu cara benar untuk “memahami” lagu; yang ada adalah partisipasi kolektif dalam sebuah karya budaya.
Merasakan Sosiologi: Dapur Inklusif sebagai Laboratorium Masyarakat
Jika lagu daerah membuka telinga, maka masakan nusantara membuka semua indra lainnya. Dapur di SOH adalah laboratorium Sosiologi kami yang paling hidup dan, seringkali, paling “berantakan” dalam arti yang positif.
Ketika kami memutuskan proyek kelas adalah “membuat Rendang” atau “Papeda dan Ikan Kuah Kuning“, kami sebenarnya sedang menciptakan sebuah simulasi masyarakat yang kompleks.
Membuat Rendang, misalnya, adalah pelajaran sosiologi yang paripurna. Resepnya yang kompleks, dengan puluhan bumbu, adalah simbol pluralisme itu sendiri berbagai elemen berbeda yang bersatu menciptakan rasa baru yang harmonis. Proses memasaknya yang memakan waktu berjam-jam dan harus terus diaduk adalah pelajaran langsung tentang ketekunan, kesabaran komunal, dan gotong royong. Tidak ada yang bisa membuat Rendang yang “benar” sendirian dan dalam sekejap.
Di sinilah keajaiban inklusi di dapur terjadi. Hierarki akademik yang kaku runtuh.
Di dapur, tidak ada lagi label “pintar” atau “kurang“. Yang ada adalah “peran“. Siswa yang unggul dalam ketelitian dan fokus mungkin siswa dalam spektrum autisme bisa menjadi “Master Bumbu“, memastikan takaran pala, ketumbar, dan lada tepat sempurna. Siswa dengan energi kinestetik tinggi menjadi “Pengulek” atau “Pengaduk Santan” utama. Siswa yang menggunakan kursi roda atau memiliki keterbatasan motorik halus, menjadi “Pengawas Resep” atau “Juri Rasa” (Quality Control) yang krusial.
Setiap siswa, dengan keunikan mereka, menemukan fungsi mereka. Mereka belajar bahwa kontribusi mereka penting dan dibutuhkan oleh kelompok. Ini adalah praktik langsung dari konsep pembagian kerja sosial (division of labor) Emile Durkheim, yang diajarkan tanpa pernah perlu menyebut namanya.
Lebih dari itu, dapur memaksa terjadinya interaksi sosial yang otentik. “Tolong geser mangkuknya,” “Apinya terlalu besar!“, “Adonanmu sudah pas, sekarang giliranku.” Siswa belajar bernegosiasi, mengelola konflik kecil, membaca bahasa tubuh, dan saling memberi afirmasi. Mereka membangun solidaritas sosial bukan karena disuruh guru, tetapi karena mereka semua ingin Rendang itu berhasil.
Dari Kelas Inklusi untuk Masyarakat yang Inklusif
Di School of Human, kami percaya bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah nilai di atas kertas, tetapi tumbuhnya individu yang utuh. Dengan membawa Sosiologi ke dapur dan ruang musik, kami memindahkan pelajaran dari abstrak-teoretis ke konkret-partisipatif.
Siswa kami belajar bahwa “kebudayaan” bukanlah sesuatu yang mati di museum. Ia adalah sesuatu yang hidup, yang bisa didengar di telinga, dirasakan di lidah, dan dibuat oleh tangan. Mereka belajar bahwa “masyarakat” bukanlah konsep di buku. Saat mereka akhirnya duduk bersama di akhir pelajaran, menikmati hasil kerja keras mereka semangkuk Rendang atau Papeda yang mereka buat bersama, sambil menyanyikan lagu yang baru mereka pelajari itulah momen sosiologi terpenting.
Mereka tidak sedang belajar tentang masyarakat. Mereka sedang menjadi masyarakat. Sebuah masyarakat inklusif, fungsional, dan suportif. Dan itu, kami percaya, adalah tujuan tertinggi dari pendidikan “yang memanusiakan manusia“.

Wiji Tri Wahyuni, S.Pd., biasa di SOH dipanggil dengan panggilan Kak Wiji, adalah Guru mata pelajaran Sosiologi (SOS) di SMA School of Human dan juga mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP School of Human. Tidak hanya mengajar mapel yang diampu, Ia juga dipercaya untuk menjadi bagian dari Tim Creative-Preneur dan/atau mengajari Masak-Memasak kepada para murid. Ia sudah bergabung di School of Human sejak tahun 2018. Di tahun pelajaran 2025-2026 ini, Ia diberi amanah tambahan sebagai Wali Kelas 11B SMA School of Human.

